Salah satu langkah untuk mencegah kerusakan, sekaligus memanfaatkan lahan gambut secara berkelanjutan dan lestari yakni menggunakan konsep agroforestry.
Pola budidaya yang berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan basah gambut yang kaya akan bahan organik ini, memiliki prinsip mengkombinasikan penanaman pohon sekaligus tanaman pangan.
Tak hanya sebatas sektor pertanian berupa tanaman pangan saja, dengan mengaplikasikan teknik agroforestry di lahan gambut ini, kita bisa melakukan aktifitas budidaya peternakan, kehutanan, sekaligus perikanan, dalam satu lingkungan atau unit lahan.
Namun, mengingat sifat lahan gambut yang dikenal sebagai lahan basah marginal, maka perlu kiranya memahami sifat dari lahan gambut itu sendiri, serta jenis tanaman pangan yang dapat tumbuh baik di lahan basah.
Apa itu Agroforestri?
Dari segi istilah sendiri, agroforestri berasal dari kata serapan bahasa ingrris, yaitu agroforestry, di mana kata agro sendiri memiliki makna pertanian, sedangkan forestry yakni kehutanan.
Nah, di Indonesia sendiri sebenarnya teknik agroforestri ini di beberapa wilayah sudah cukup dikenal, yaitu dengan istilah wanatani atau hutan tani. Di mana konsep dari wanatani ini adalah pengelolaan lahan secara efisien dan produktif di tengah masalah ketersediaan lahan yang terbatas.
Namun kalau dari segi konsep sendiri, setidaknya terdapat tiga komponen pokok di dalam sistem agroforestri, yakni kehutanan, pertanian dan peternakan. Di dalam sistem agroforestri ini setidaknya dikenal 5 jenis kombinasi, yaitu;
- Agrisilvikultur; yaitu kombinasi antara komponen kehutanan dengan sektor pertanian, contohnya penanaman pepohonan kayu keras, perdu, palem atau bambu dengan komponen produk pertanian
- Silvopastura; yaitu kombinasi antara komponen kehutanan dengan peternakan
- Agrofilvopastura; yaitu kombinasi 3 komponen berupa pertanian, kehutanan dan peternakan
- Silvofishery; yaitu kombinasi antara komponen kehutanan dengan budidaya perikanan
- Apiculture; yaitu kombinasi antara budidaya lebah madu dengan kehutanan
Manfaat Agroforestry Bagi Lingkungan Hidup dan Masyarakat
Seperti yang sudah kita ketahui, metode budidaya monocropping atau menanam satu jenis tanaman dalam satu unit lahan, terbukti memakan biaya yang tinggi sekaligus rawan gagal panen.
Berbeda dengan teknik agroforestri atau wanatani. Dalam sistem ini, keseimbangan ekosistem dan keaneka ragaman hayati di dalamnya dapat terjaga dengan alami. Hal ini dikarenakan tidak ada satu spesies atau hama yang mendominasi satu unit lingkungan,
sehingga resiko serangan hama dan penyakit dapat ditekan sedemikian rupa.
Sebagai contoh, keberadaan pepohonan yang rindang, semak belukar, serta aneka bunga akan menarik beragam jenis predator pencegah hama dan penyakit bagi tanaman maupun ternak yang dibudidayakan di lahan tersebut.
Bukan hanya itu saja, teknik agroforestri ini menggabungkan tiga atau lebih kombinasi sektor budidaya pertanian disertai kegiatan menjaga kelestarian hutan. Metode ini dapat mengoptimalkan penggunaan lahan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan, bahan bakar dan kualitas hidup masyarakat.
Dengan terjaganya ekosistem hutan dan pepohonan yang alami, bencana seperti erosi, kekeringan, dan kebakaran hutan pun juga dapat dicegah. Khususnya apabila konsep wanatani ini diterapkan di lahan basah gambut. Ketika lahan gambut dapat dijaga ekosistemnya dan terhindar dari kekeringan, sudah barang tentu kebakaran hutan tidak akan terjadi lagi.
Mengenal Paludikultur; Praktek Agroforestri di Lahan Gambut
Penanganan lahan gambut diperlukan teknik khusus, supaya lahan basah gambut tidak kehilangan sifat aslinya, yaitu basah dan berair.
Itulah kenapa kegiatan budidaya di lahan gambut, baik itu pertanian maupun peternakan perlu penanganan yang berbeda, di mana pengeringan lahan harus dihindari.
Untuk itu praktik agroforestri dengan metode paludikultur, yakni budidaya tanaman tanpa drainase pada lahan gambut dengan memilih spesies tanaman budidaya yang cocok ditanam di lahan basah perlu diperhatikan. Dengan harapan lahan gambut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyediakan bahan makanan, sumber energi, serta obat-obatan.
Pemilihan jenis atau spesies tanaman pangan yang bisa beradaptasi di lahan basah ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus memberikan tambahan biomassa atau bahan biologis dari tanaman yang mati, untuk menambah pembentukan gambut secara kontinyu.
Jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan di lahan basah gambut diantaranya;
- Jenis sayuran umbi; Purun atau kastanye air
- Jenis sayuran daun; Kangkung dan bayam air
- Jenis sayuran buah; Pare dan labu pahit
- Jenis tanaman pendamping biomassa; Teratai, gambir dan pakis
Tentu untuk memaksimalkan potensi tanaman-tanaman tersebut, perlu kajian yang lebih mendalam mengenai teknik budidaya dan perawatan tanaman yang cocok dibudidayakan di lahan gambut, sehingga hasil yang didapatkan bisa maksimal sekaligus berdampak baik bagi ekosistem lahan gambut.