AP2SI Sukses Damping KTH Reksawana Dalam Penanaman 21.000 Pohon Kopi dan Alpukat

Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia (AP2SI) dampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) Reksawana dalam melaksanakan penanaman pohon kopi dan  alpukat dengan tema Hutan Lestari Rakyat Sejahtera di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. (Senin, 19/02/2024).

Salah satu dari sekian banyak hal yang mungkin saja memiliki dampak sangat besar bagi ekosistem serta keberlangsungan umat manusia adalah hutan. Dewasa ini kita telah banyak sekali melihat manfaat dalam pemeliharaan hutan baik secara masal maupun beberapa kelompok peduli lingkungan. Hal-hal semacam ini dirasa perlu dan wajib dilakukan secara masif dan teroganisir agar kedepannya upaya pelestarian hutan tak hanya dimaknai sebagai kegiatan formalitas belaka.

Ialah KTH Reksawana sebagai contoh kelompok peduli lingkungan yang memiliki peran aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Tak hanya pelestarian saja, kelompok ini ternyata juga berupaya secara penuh dalam meningkatkan taraf kehidupan serta menghidupkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Pada mulanya penanaman bibit pohon ini dipersiapkan kurang lebih lima hari sebelum kegiatan dimulai, yakni dimulai pada tanggal 14 Februari 2024. Pada waktu persiapannya, Dinar Santika selaku ketua dari KTH Reksawana berkordinasi bersama AP2SI dan Kitabisa.

“Sebelum acara berlangsung, kita bersama-sama mempersiapkan kurang lebih 20.000 bbibit kopi, 1000 bibit alupkat dan juga ajir bamboo sebagai tiang penyangga tanaman. Seluruh persiapan ini juga dibantu oleh AP2SI dan KITABISA yang membantu dan mensupport kegiatan secara penuh,” kata Dinar.

Pada mulanya KTH Reksawana ini juga telah berkordinasi dengan pendampingnya, yakni AP2SI. Dalam perannya, AP2SI telah mendampingi KTH Reksawana kurang lebih dalam kurun waktu tiga tahun. Pendampingan ini dimaksudkan agar dapat membantu KTH Reksawana dalam mengurus proses pengajuan izin perhutanan sosial, hal ini juga dipaparkan oleh Ika Septya selaku bendahara AP2SI ketika wawancara.

“AP2SI memiliki peran sebagai pendamping dalam kegiatan penanaman pohon, misalkan saja seperti saat ini ketika KTH Reksawana akan melakukan penanaman. Selain itu kami juga turut membantu agar KTH Reksawana mudah mengurus izin perhutanan sosial agar cepat mendapatkan izin dari kementrian lingkungan hidup”

“Dilain sisi kita juga melakukan kerja sama dengan pihak Kitabisa serta instatnsi lain agar dapat mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sangat perlu,” imbuhnya.

Ika septya juga menjelaskan bahwasannya kerjasama yang telah dibangun ini juga telah dirintis sejak lama, harapannya sangat besar bagi pengembangan AP2SI hingga nantinya dapat membuahkan dampak positif bagi beberapa kelompok lain yang terafiliasi atau sedang didampingi oleh AP2SI.

“Bulan Desember kemarin saya dan juga rekan anggota lain telah melakukan interaksi kerjasama secara formal dengan pihak KITABISA, hal ini didasarkan pada pola kebutuhan tingkat lanjut yang tentunya dapat bersama-sama mewujudkan pemulihan lingkungan dan perbaikan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Ika.

Sebenarya model kegiatan yang telah dilakukan oleh KTH Reksawana ini tidak semena-mena hanya untuk kegiatan semata, pasalnya sebelum kegiatan berlangsung seluruh pihak yang terlibat juga berkordinasi dengan AP2SI untuk mempertimbangkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Pertimbangan ini sangat penting dilakukan mengingat penanaman ini harus didasarkan dengan kebutuhan lahan. Dalam wawancaranya, Ika juga menjelaskan hal tersebut dengan singkat.

“Kegiatan penanaman ini kita harus survei lokasinya dan kondisinya dahulu, semisal jika kita melakukan penanaman yang menguntungkan mungkin kita bisa menanam buah-buahan yang dapat mendorong perekonomian sekitar”

Ika juga menjelaskan bahwasannya penanaman ini juga tidak hanya berfokus pada perekonomian masyarakat sekitar saja, juga memperhatikan kepentingan lai seperti hutan lindung.

“Selain melakukan penanaman pohon yang buahnya menghasilkan, kita juga memiliki fokus pada penanaman pohon di hutan lindung, hal ini juga kita siapkan bahan pohon produktif yang kemungkinan besar tidak boleh ditebang”

Dalam proses pelaksanaannya, Ika Septya dan Dinar Santika juga menjelaskan bahwasannya jalannya kegiatan tidak selalu mulus, akan ada satu atau beberapa kendala yang terjadi. Namun kendati demikian mereka berdua ketika di wawancarai mengaku selalu mencari jalan keluar jika andai kata hal-hal semacam ini terjadi.

“Kalau kendala pastinya ada, sejauh ini kendala kami mungkin anggota kami tersebar di berbagai wilayah dan provinsi sehingga kita membutuhkan waktu dan usaha ekstra jika akan melakukan kordinasi. Namun hal semacam ini sangat wajar dan sering kami hadapi dengan pelan-pelan mencari jalan keluar,” kata Ika.

“kendala kita memang banyak, tapi ya dibuat ringan saja lah. Kita harus fokus dan bergerak cepat dalam mencari jalan keluarnya. Ya intinya tenang dan mengalir saja lah,” imbuh Dinar.

Sebelum wawancara berakhir, mereka berdua juga memberikan harapan-harapan kedepannya mengenai hal-hal yang akan datang.

“Harapan saya semoga semua anggota dan petani bisa menjaga tanamannya dengan baik. Kami juga berharap bahwa kegiatan penanaman ini tidak hanya dimaknai sebagai acara momentual saja tetapi juga terus ditindaklanjuti agar kedepannya dapat membuahkan dampak postif untuk semuanya,” ujar Ika.

“Semoga saja kedepannya kita selalu diberi kelancaran dan komunitas yang saya ketuai dapat berjalan lancer dan sukses. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada AP2SI serta KITABISA yang telah banyak membantu dan berkontribusi sangat banyak. Juga kepada pemerintah saya berharap agar lebih aktif lagi dalam berkontribusi dalam kegiatan positif semacam ini,” imbuh Dinar.