Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur Kabupaten Malang berhasil melaksankan pengembangan potensi wisata lokal dan pelatihan barista di pantai 3 in 1 pada hari Kamis hingga Minggu, 22-25 Februari 2024. Kegiatan ini merupakan bentuk kesadaran dan usaha dari KTH Banturejo bersama masyarakat lokal dalam mewujudkan tempat wisata yang lebih inovatif.
Pada mulanya kegiatan ini diprakarsai oleh KTH Ngudi Makmur yang diketuai oleh Muhammad Zainul Afkar dengan menyerap evaluasi dari berbagai pihak. Dengan melibatkan pemuda desa serta masyarakat yang ingin bersama-sama mengembangkan potensi wisata akhirnya pada waktu itu terciptalah konsep wisata pantai yang menyajikan menu khas perkopian di pantai pesisir selatan.
“Kami ingin mengembangkan potensi pantai di Malang khusunya pesisir selatan, dilain sisi kita memang harus memiliki inovasi agar menarik wisatawan agar tidak jenuh dengan pemandangan yang itu-itu saja,” ujar Zainul.
Dalam pengembangan wisata ini KTH Ngudi Makmur membentuk kegiatan inovatif baru yang sebelumsebelumnya belum pernah dikembangkan sama sekali, yakni dengan memberikan pelatihan barista kepada beberapa pemuda desa untuk mengasah ketrampilan dalam meracik kopi. Hal ini diyakini Zainul sebagai langkah awal inovasi dalam menarik minat wisatawan. Ia menjelaskan dalam pelatihan barista ini diharapkan dapat menambah ilmu dari pemuda yang menjadi peserta pada pelatihan tersebut.
Pelatihan yang diadakan kurang lebih selama empat hari ini telah memberikan sumbangsih ilmu dan wawasan peserta gar dapat lebih lagi meningkatkan ekonomi lokal. Dalam pelaksanaanya pemberian materi dibagi menjadi beberapa waktu. Hari pertama para peserta diajarkan secara teoritis tentang dunia perkopian yang ada, pada hari berikutnya para peserta diajarkan cara membuat kopi dalam berbagai varian dengan kata lain mereka langsung praktek.
Pada waktu pelaksanaan mereka juga mendapatkan ilmu baru dari The Local Enablers (TLE) tentang pengemasan produk kewirausahaan. Hari berikutnya mereka difasilitasi stand penjualan untuk mempraktekan dari seluruh ilmu yang telah dipelajari sejak awal.
Selama proses pembelajarannya, para peserta tak hanya belajar mengenai konsep kopi-kopi saja akan tetapi mereka juga diajak berdiskusi mengenai hal-hal apa saja yang sekiranya dapat dikembangkan, salah satunya dengan membuat skema zonasi wisata. Para peserta yang didominasi kaum muda ini juga ikut serta dalam memberikan sumbangsihnya mengenai tempat mana saja yang kira-kira sangat potensial untuk dijadikan parkiran, tempat nongkrong, camp area hingga sudut lokasi yang memiliki pemandangan unggulan.
Pelatihan barista semacam ini dinilai oleh Zainul sebagai titik balik inovasi dan pengembangan potensi lokal agar dikemudian hari dapat lebih memberikan daya tawar bagi wisatawan yang ingin berkunjung. Selain itu ia juga menuturkan bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya selesai sampai disini saja, ia berharap kepada seluruh pihak yang terlibat juga dapat saling bekrjasama dalam suksesi upgrading potensi yang ada.
Dalam sesi akhir wawancaranya ia juga memiliki pengharapan yang besar, Zainul menjelaskan bahwa semoga kedepannya dapat lebih banyak lagi pihak yang terlibat seperti halnya AP2SI yang telah membantu KTH Ngudi Makmur dalam mensupport dan mencarikan jaringan.
Zainul menuturkan, “Kami tentu saja sangat berharap kepada seluruh pihak dan khususnya AP2SI dapat terus turut membantu dalam mengembangkan potensi lokal. AP2SI selama ini juga telah memberikan sumbangsih besar dalam mengkawal dan membantu mencarikan jaringan. Disisi lain semoga kedepannya wilayah pesisir selatan juga lebih dipperhatikan oleh pemerintah agar dapat memperbaiki infrastruktur seperti jalan raya dan juga hal-hal lain yang dapat menunjang potensi ekonomi lokal.”
Penulis : Zulfah Izumi Hidayah